Memuat Cerita...

Kurokami Seiso no Reikoku Bishoujo wo Tasuketara V1: C1


Bab 1: Aku Menyelamatkan Seorang Wanita Cantik yang Berhati Dingin dan Dia Berubah Menjadi Tsundere


Di penghujung sore, kedai kopi itu ramai dengan orang-orang yang sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerja maupun sekolah. Di situlah aku, Ichijo Minato, sempat melirik ke arah meja kasir sambil menyiapkan pesanan.
Rambut hitam yang indah, kulit seputih susu hingga tampak hampir bening, dan mata biru yang dingin seolah menjaga jarak dari siapa pun. Namanya Nanase Rei. Ia adalah teman sekelasku sekaligus rekan kerjaku di pekerjaan paruh waktu ini.
Keluarganya, keluarga Nanase, adalah keturunan bangsawan terdahulu yang telah melahirkan generasi demi generasi orang-orang luar biasa dan menjadi penopang Jepang selama bertahun-tahun.
Mungkin karena itulah, sebagai putri dari keluarga utama Nanase, ia pun tidak terkecuali. Selain penampilannya yang memukau, ia memiliki prestasi gemilang di berbagai bidang, mulai dari akademik, olahraga, hingga seni.
Ia adalah contoh sempurna dari kecantikan yang tak terjangkau. Sudah tentu, ia sangat populer di kalangan para lelaki, dan banyak yang ingin mendekatinya.
Namun begitu, pemandangan seorang siswa yang ditolak mentah-mentah olehnya dengan rentetan kata-kata pedas hingga semangatnya hancur dan harga dirinya remuk, sudah menjadi bagian lumrah dari kehidupan sekolah di angkatan kami.
 
◇ ◇ ◇
 
“Ayolaaah, main sama aku!”
 “Pesanan Anda?” 
Ia sedang digoda oleh seorang pria berambut pirang mencolok di depan kasir, dan ia menghadapinya dengan tatapan jengkel, mata dinginnya menatap pria itu seolah ia tak lebih dari sampah.
“Aku mungkin keliatan biasa, tapi aku punya uang! Aku bisa beliin kamu apa aja, lho?” 
“…Pesanan Anda?” 
“Maksudku—”
 “Jika Anda tidak ingin memesan, silakan pergi. Berdiri di sini mengganggu pelanggan lain.”
Wajah pria itu berkedut dihadapkan pada tatapan dingin membeku dan kata-kata tanpa ampun dari Nanase.
Tampaknya bahkan bagi pria yang sudah terbiasa menggoda wanita sekalipun, menaklukkan hatinya adalah hal yang mustahil.
“Pak, pintu keluarnya di sana.”
“Ugh!”
Pria itu melempar tatapan kesal ke arah Nanase sebelum akhirnya meninggalkan kedai.
Setelah memastikan ia telah pergi, Nanase kembali melayani pelanggan seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
“Minato-kun, Rei-chan, sisanya biar aku yang handle, jadi kalian berdua boleh pulang duluan.”
Manajer kami, Watanabe-san, memanggil Nanase dan aku setelah pekerjaan kami kurang lebih sudah selesai.
“Kalian mau minum apa? Ku Traktir.” 
“Tidak, aku mau pulang. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini.”
Dengan jawaban singkat itu, Nanase melangkah cepat menuju ruang ganti.
“O-oh, iya! Kamu juga!” Watanabe-san terburu-buru membalas.
Nanase memang tidak banyak berinteraksi dengan staf lainnya. Akibatnya, baik sang manajer — yang merupakan kakak kelas kami — maupun aku, belum pernah benar-benar mengobrol dengannya.
“Dia cool seperti biasa ya? Di sekolah juga begitu?”
“Sebenarnya di sini dia sedikit lebih ramah dibanding di sekolah.” 
“Eh, benarkah? Yah, dia kayaknya bukan orang yang jahat sih.” 
“Ya… Kalau begitu, Manajer, aku minta menu spesial baru hari ini.” 
“Kamu nggak malu-malu ya? …Oke deh, siap!”
Dengan ekspresi sedikit tak berdaya, Watanabe-san menyiapkan minumanku sambil tersenyum cerah.
Setelah ganti baju, aku pulang sambil menyeruput kopi tadi.
“Kopi tuh paling enak kalau ditraktir— Hah?”
Di tengah perjalanan pulang yang menyenangkan, aku melihat wajah familiar di sudut gang yang sepi.
Situasinya nggak enak dipandang, jadi aku berhenti.
Itu… Nanase?
Nanase ada di sana bersama pria tadi, dan sepertinya mereka sedang ribut.
“Berhenti ngikutin aku! Aku telepon polisi!”
“Eh, udah selesai kerja kan? Harusnya kamu berterima kasih, aku udah nunggu lho.”
Begitu… Jadi dia nunggu sampai Nanase selesai kerja. Pasti dia beneran kesal.
Aku diam-diam pindah ke tempat yang nggak keliatan dan mengamati dari sana.
“Aku nggak minta kamu nunggu! Ganggu banget!”
“Dingin amat… Sebentar aja nggak akan mati kali.”
“Nggak mau. Aku nggak mau menghirup udara yang sama dengan orang rendahan sepertimu. Kalau ngerti, pergi!”
“Haaah… Ya udah. Terpaksa aku paksa deh.”
Ekspresi matanya berubah, dan ia langsung meraih lengan Nanase. Lalu mulai menyeretnya dengan kasar.
“Hei! Lepas!”
“Ikut aja!”
Nanase berontak sekuat tenaga, tapi kekuatannya kalah jauh dan ia terus terseret.
Jujur, aku orangnya males banget sama yang namanya masalah… tapi ini nggak bisa dibiarkan.
Aku keluar dari sudut jalan, menghampiri mereka, lalu mencengkeram pergelangan tangan yang menarik lengan Nanase.
“Hentikan. Kasar-kasaran sama cewek itu nggak bagus.”
Aku bilang itu dengan nada rendah. Pria itu menatapku dengan beringas — kelihatannya sudah biasa berantem, sama sekali nggak panik dengan kemunculanku.
Tapi tatapan orang receh kayak dia? Nggak ada efeknya buat aku.
“Hah? Lo siapa?”
“Kenalannya dia, kira-kira begitu… Bisa lepaskan tangannya?”
“Aku ada urusan sama ni cewek. Jangan ikut campur”
Pria itu langsung mengayunkan tinju ke arahku.
Hah… Makanya aku males berurusan sama orang kayak gini.
Aku pererat cengkeramanku, lalu dengan cepat memelintir tangannya ke belakang punggungnya.
Sebagai pewaris keluarga terkemuka, aku udah diajari berbagai bela diri sejak kecil. Menundukkan orang seperti dia bukan hal yang susah.
“A-Aduh! Sakit! Bangsat—!”
Dia masih melawan, jadi aku tambah tekanannya.
“Bangsat kenapa?”
“K-Kamu— siapa kamu sebenarnya—”
“Pilihannya cuma dua: pergi atau nggak. Kalau nggak mau pergi, sakitnya bakal makin parah.”
“!? O-Oke! Aku pergi! Paham?!”
Begitu aku tambah tekanan, dia langsung nyerah.
Aku lepaskan tangannya. Pria itu menatapku penuh benci — tapi begitu aku balas menatap, dia langsung buang muka.
“Tch…”
Sepertinya mau ngomong sesuatu, tapi dia cuma berbalik dan pergi begitu saja.
Kini cuma aku dan Nanase yang tersisa.
Aku lirik Nanase — dia menjaga jarak, matanya penuh curiga.
“Kamu udah nolong aku… Pasti ada maunya?”
Dia pasti kira aku minta imbalan. Yah, bukan asumsi yang salah sih — tapi tetap bikin aku sedikit kena mental.
“Nggak ada. Aku bantu karena kita kenal. Sesederhana itu.”
“…Beneran?”
“Iya. Tapi syukurlah kamu baik-baik aja.”
Aku bilang itu pelan, berharap dia nggak terlalu waspada lagi — dan ekspresinya langsung berubah, berdiri bengong begitu saja.
“Oke, duluan ya.”
Aku berbalik dan mulai jalan.
“T-Tunggu!”
“Hm? Apa?”
“Setidaknya… aku harus bilang makasih… J-Jadi… makasih ya, udah nolong aku…”
Dia mengalihkan pandangan, malu-malu mengucapkan terima kasih sambil memainkan sehelai rambut hitamnya yang indah. Pipinya sedikit memerah.
“Nggak usah dipikirin. Hati-hati pulangnya.”
Aku balikkan badan, dan kali ini beneran pulang.
Kali ini aku cuma bantu kenalan yang lagi kesusahan. Nggak lebih, nggak kurang.
Bukan berarti aku sama Nanase bakal jadi lebih dekat.
Besok, kami kembali jadi teman sekelas dan rekan kerja biasa
 
◇ ◇ ◇
 
Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah seperti biasa. Waktu masuk kelas, beberapa orang melirikku dengan tatapan takut.
Sudah biasa sih…
Alasannya simpel — aku nggak banyak ngomong kalau nggak perlu, dan nggak terlalu bergaul sama teman sekelas. Ditambah mukaku yang biasanya datar dan sifatku yang cuek, akhirnya aku dicap sebagai cowok pendiam yang menyeramkan dan dijauhi orang. Sebelum sadar, aku sudah jadi lone wolf. Tapi sekarang aku nggak terlalu peduli.
Aku nggak ngebet punya teman, jadi reputasi pun nggak terlalu aku pikirkan. Lagipula, sendiri itu lebih enak.
Setelah naruh tas di meja, aku tiba-tiba teringat kejadian kemarin dan melirik ke arah kursi dekat jendela. Di sana duduk Nanase Rei, si dingin berwajah memukau dengan rambut hitamnya yang mencolok dan mata birunya yang sejuk, tengah membaca buku dengan tenang.
Tidak ada seorang pun di sekitarnya. Mungkin berkat tatapan dinginnya dan lidahnya yang tajam hingga bisa menghancurkan mental orang. Tapi melihat para cowok yang masih diam-diam meliriknya dari jauh, jelas dia masih sangat populer di kalangan mereka.
Saat aku memperhatikannya sejenak, dia mendongak dan pandangan kami bertemu.
Hee hee.
Bukannya tatapan beku mutlak yang selalu ia punya di sekolah, dia malah tersenyum bak dewi — matanya lembut seperti malaikat, mampu mempesona siapa pun yang melihatnya.
Normalnya, kalau ada yang ketahuan menatapnya, dia pasti balik menatap tanpa ampun.
Aku merasa aneh, tapi nggak terlalu aku pikirkan. Mungkin cuma keisengan sesaat.
Sepulang sekolah, aku pergi kerja seperti biasa dan bekerja sekitar tiga jam. Tepat saat aku selesai bersiap untuk pulang, aku melihat sosok familiar di salah satu kursi pelanggan.
Sosok itu — Nanase Rei — menatap ke arahku dengan secangkir kopi di tangan dan senyum ceria di wajahnya.
Ini agak creepy… Apaan sih ini…?
Sambil bingung dengan tingkah Nanase yang tidak biasa, aku mulai berjalan ke arah pintu keluar seolah tidak ada yang salah.
“Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini.”
Tapi tepat saat aku melewati mejanya, suara merdu seperti gerincing lonceng bergema di dalam kedai. Aku cukup terkejut bahwa dia yang menyapaku duluan. Yang biasanya, jangankan disapa — bahkan kalau aku yang bilang duluan pun dia pasti pura-pura nggak dengar.
Ada angin apa ini? Sikapnya beda banget sama kemarin…
“…Hari ini hari liburmu kan, Nanase?” balasku, waspada.
“Memangnya kenapa kalau aku datang sebagai pelanggan? Lagipula, hari ini aku memang sengaja nunggu kamu.”
“Nunggu aku?”
Aku coba pikir alasannya, tapi nggak ada yang nyambung. Sempat kepikiran mungkin dia masih kesal soal kejadian kemarin — tapi melihat sikapnya yang ceria, kayaknya bukan sesuatu yang negatif.
“Iya, betul. Aku ada urusan sama kamu.”
Nanase menghabiskan kopinya lalu berdiri. Sepertinya dia sudah pulang dulu, karena sekarang dia pakai baju biasa, bukan seragam sekolah.
“Kalau begitu, kita berangkat? Ke rumahmu.”
“…Kenapa harus ke rumahku?”
“Karena yang mau aku bicarakan susah dibahas di sini. Jadi rumahmu kan?”
Memang benar aku tinggal sendiri, jadi nggak ada orang di sana.
Kelihatannya dia nggak akan mundur. Yah, mungkin aku dengerin dulu aja terus suruh dia pulang cepat…
“…Oke, tapi sebentar saja.”
“Terima kasih. Yuk, kita pergi.”
Kami berjalan di jalanan yang mulai gelap tanpa sepatah kata pun — hanya keheningan yang terus berlanjut — dan sebelum sadar, kami sudah sampai di tempatku.
“Kita sudah sampai.”
“Jadi ini tempatnya… Lumayan bagus ya.”
Tempatku adalah apartemen mewah yang jauh terlalu berlebihan untuk seorang pelajar yang tinggal sendiri. Ada ruang tamu seperti suite hotel, dapur yang begitu lengkap hingga chef berbintang pun pasti puas, dan balkon luas dengan pemandangan luar biasa yang cocok untuk bersantai. Tentu saja, pintunya pakai auto-lock.
Aku sudah bilang ke orang tua bahwa tempat yang lebih kecil pun cukup, tapi mereka langsung menolak — katanya tidak pantas bagi calon kepala keluarga Ichijo tinggal di apartemen murahan. Jadi begitulah.
Sampai di depan pintu, aku keluarkan kunci dari saku, buka pintunya, dan mempersilakan Nanase masuk.
Berkat kebiasaanku menjaga kebersihan, kondisinya cukup layak untuk menerima tamu.
“Jadi, apa yang mau kamu bica—”
Tepat saat aku sampai di ruang tamu dan berbalik untuk menanyakan maksud kedatangannya, Nanase tiba-tiba memelukku.
Wajahnya tidak lagi datar. Pipinya memerah, dan matanya berkaca-kaca — sayu dan seperti melayang.
“Akhirnya kita berdua saja.”
Tidak ada lagi jejak si dingin yang mereka sebut “Ice Princess,” gadis yang katanya “tidak punya perasaan.”
“H-Hei… Nanase?”
Meski aku panggil namanya, Nanase tetap saja mengubur wajahnya di dadaku.
Ada apa ini? Kenapa Nanase memelukku…?
Saat aku masih mencoba mencerna kebingunganku, Nanase yang dari tadi mengubur wajahnya di dadaku akhirnya mendongak.
Aku lumayan tinggi, jadi dia otomatis mendongak menatapku. Mata birunya yang dingin — yang biasanya menjauhkan semua orang — kini dipenuhi cahaya lembut yang terasa bahagia. Aku sempat tergagap karena ekspresinya yang… menggemaskan.
“…Ini maksudnya apa?”
“Aku memelukmu.”
“Bukan itu yang aku tanyakan. Lepaskan dulu, bisa?”
Aku coba terdengar tenang meski sebenarnya panik, tapi bukannya melepaskan, Nanase malah mempererat pelukannya dan kembali mengubur wajahnya di dadaku.
“H-Hei…”
“Kamu wangi… Aku suka baumu.”
“Aku bilang, lepaskan.”
“…Nggak mau.”
Dia malah memeluk lebih erat, seperti anak kecil yang berusaha mempertahankan mainan kesayangannya agar tidak diambil.
Serius, bagaimana bisa sampai seperti ini…?
Aku bisa saja menariknya secara paksa, tapi itu bertentangan dengan prinsipku — tidak ada kekerasan yang tidak perlu.
Jadi mau tidak mau aku harus menunggu dia melepaskan sendiri… tapi melihat situasinya, sepertinya itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
“Apa yang harus aku lakukan biar kamu mau lepas?”
Deskripsi
Waktu aku tanya itu, dia mendongak dan bergumam pelan.
“…Lakukan.”
“Apa?”
“…Cium aku.”
“…Apa?”
Sepertinya aku baru saja mendengar sesuatu yang cukup gila. Untuk sekarang, aku pura-pura tidak dengar saja.
Pasti dia salah ngomong.
“Aku bilang, ci—”
“Nggak mungkin.”
Dia menatapku dengan mata penuh harap, tapi aku langsung menolak.
“…Kenapa?”
“Kenapa?… Karena kita bukan pasangan. Lagipula, aku nggak suka kamu.”
“Mmmph… Kamu kejam banget.”
Dia cemberut dan menatapku dengan ekspresi tidak puas, tapi ini satu hal yang tidak bisa aku lakukan.
Orang tuaku sudah berkali-kali menanamkan ke kepalaku untuk tidak sembarangan punya pacar, karena merekalah yang akan memilihkan istriku. Bisa bikin masalah nanti, kata mereka.
Jujur… aku ingin memilih istriku sendiri. Mereka sepertinya sudah berencana menikahkan aku dengan putri keluarga terkemuka lainnya.
“Kalau begitu… peluk saja aku.”
“…Serius?”
“Kalau nggak, aku nggak akan lepas…”
Tekad yang kuat terpancar dari matanya — dia tidak akan menyerah.
Ini… sepertinya dia benar-benar tidak akan lepas kalau aku tidak melakukannya… Yah, pelukan saja mungkin masih oke.
“…Kamu mau lepas kalau aku peluk, kan?”
“Iya, tentu saja.”
“…Ya sudah.”
Aku perlahan melingkarkan tangan ke tubuhnya yang ramping.
“Ah…”
Suara terkejut keluar dari bibirnya, tapi aku abaikan dan tetap memeluknya.
Ini… nggak buruk.
Pelukan pertamaku terasa lebih menyenangkan dari yang aku bayangkan, dan entah kenapa terasa menenangkan.
Aku pernah dengar bahwa pelukan punya efek menenangkan — dan sepertinya memang benar.
“…Sudah. Sekarang lepas.”
“Sebentar lagi… boleh?”
Rupanya belum cukup baginya. Dia menatapku dengan mata memohon bak anak anjing.
“…Sebentar lagi.”
Tanpa sadar aku mengiyakan permintaannya — karena sebagian kecil dari diriku pun tidak ingin ini berakhir.
Saat aku lihat wajahnya, matanya terpejam, wajahnya menempel di dadaku seolah merasa aman.
“Haaah… senang banget…”
Orang-orang menyebutnya putri es, Ratu es, dan macam-macam lainnya… tapi itu sama sekali tidak benar.
Sekarang, dia seperti anak kecil yang ingin dimanja.
 
“Jadi, kenapa kamu melakukan itu?”
Waktu aku dudukkan dia di kursi dan bertanya, Nanase sama sekali tidak terlihat menyesal — malah menyeruput kopi buatanku dengan gaya anggun.
Orang ini… sama sekali nggak nyesel. Yah, sebagian salahku juga sih karena menuruti kemauannya. Pelukan tadi juga enak rasanya, dan sebagian kecil dari diriku bahkan berharap bisa lebih lama.
“Ya karena aku suka kamu, jelas dong.”
“…Aku nggak ngerti. Kenapa bisa suka sama orang seperti aku?… Aku nggak sebaik yang kamu kira, lho.”
“Tapi kamu sudah menolongku kan? Kamu keren banget waktu itu.”
“…”
Biasanya aku selalu berusaha menghindari masalah sebisa mungkin. Harusnya aku sudah memutuskan untuk berpaling bahkan kalau melihat seseorang diserang — tapi saat itu, pilihan untuk meninggalkan Nanase bahkan tidak terlintas di benakku.
Aku sendiri nggak terlalu paham… tapi kayaknya meninggalkan kenalan yang lagi kesusahan itu memang nggak bisa aku terima.
Sialan, ternyata aku masih lemah juga…
“Jadi, bagaimana? Mau nggak jalan sama aku?” Dia mengajukan pertanyaan itu dengan senyum menggoda.
“Nggak mau. Pertama, aku nggak bisa sembarangan punya pacar karena urusan keluarga. Lagipula, kamu berubah drastis banget ya? Ice Princess-nya ke mana?”
“Mungkin sifatku jadi lebih lembut kalau sama kamu.”
“…Itu mungkin cuma perasaanmu.” Sialan kamu, Nanase… Kamu mau ngapain sih, coba merayu aku begini?
“Lagipula, bukannya kamu sendiri juga nggak boleh sembarangan jadian, Nanase?”
“Iya, orang tuaku juga yang akan memilihkan suamiku. Menyebalkan ya?”
Keluarga Nanase adalah keluarga terkemuka dengan sejarah panjang, jadi sebagai putrinya, dia kemungkinan akan dinikahkan dengan pria dari keluarga terkemuka lainnya.
“Tunanganmu sudah ditentukan belum?”
“Belum.”
“Punyaku juga belum.”
“Oh? Begitu… Semoga cepat ketemu ya.”
Jujur, aku nggak terlalu tertarik soal tunangan. Toh aku akan dipaksa menikahi perempuan yang bahkan tidak aku sukai. Selama dia bisa memberi keturunan, yang lain tidak terlalu aku pedulikan.
Orang biasa mungkin menganggapku dingin — tapi inilah nasib orang yang lahir di keluarga terkemuka.
“Keluargamu kayaknya ketat soal hal itu.”
“Iya. Adikku sama sekali nggak berniat meneruskan keluarga, jadi sebagai pewaris, aku yang harus menjaga nama Ichijo.”
Keluargaku, keluarga Ichijo, sama seperti keluarga Nanase — keturunan bangsawan yang telah menopang Jepang selama bertahun-tahun.
Keluarga Ichijo terus menopang Jepang hingga sekarang, dengan kekayaan luar biasa sekaligus pengaruh politik yang kuat.
Adikku juga membawa darah Ichijo, jadi dia secara alami sangat cerdas — tapi entah kenapa, dia tidak mengincar posisi kepala keluarga dan menyerahkannya padaku.
“Kita sama-sama susah ya.”
“Iya.”
Ngobrol dengan Nanase terasa sangat menenangkan. Mungkin karena situasi kami mirip, dan bisa curhat satu sama lain terasa melegakan. Kalau tunanganku nanti orang seperti Nanase, mungkin kami bisa cukup akur.
“Aku sudah tahu apa yang ingin aku tahu, jadi aku pulang dulu.”
“Oke, aku antar.”
Aku ambil jaketku dari kursi.
“Nggak usah, aku mau panggil taksi. Hari ini menyenangkan, makasih ya.”
Nanase terlihat senang dengan perhatianku dan mengambil barang-barangnya sambil tersenyum.
“Aku juga senang. Makasih.”
Aku nggak punya banyak teman yang bisa diajak berbagi kekhawatiran soal keluarga seperti ini, jadi ini juga waktu yang berarti bagiku.
“Kalau begitu, sampai besok.”
“Iya.”
Kami saling berpamitan. Saat aku melihatnya membuka pintu untuk pergi, dia tiba-tiba berhenti.
Lalu dia berbalik menghadapku.
“…Hei.”
“Ada apa?”
“Anu… boleh nggak aku manggil kamu… Minato…?” tanyanya dengan ekspresi malu sambil memainkan rambutnya.
“Boleh, nggak masalah.”
Aku nggak terlalu suka nama ini, tapi kalau dia mau memanggilnya, terserah saja.
“Makasih. Kalau begitu, sampai besok ya, Minato.”
“Iya, sampai besok.”
Dia tersenyum puas, lalu pergi.
◇ ◇ ◇
Sepulang sekolah, aku kerja paruh waktu seperti biasa.
“Kerja kerasnya ya, Minato-kun. Kamu juga, Rei-chan. Hari ini rame banget, kalian banyak bantu deh. Mau minum apa? Hari ini aku tambahin dessert baru juga.”
“Makasih, aku mau ya.”
Aku dengan senang menerima tawaran manajer dan memesan kopi beserta dessert barunya. Salah satu keuntungan terbaik kerja di sini adalah bisa minum kopi mahal gratis setelah shift.
Mau pesan apa hari ini? Yang cocok sama dessert barunya enak kali ya.
“Kalau Rei-chan?” Manajer juga bertanya ke Nanase, sekadar basa-basi.
Dia selalu nanya tiap kali, tapi jawabannya tidak pernah iya. Manajer pun sudah tahu bakal ditolak.
Aku sudah yakin Nanase akan menolak hari ini juga — tapi jawabannya berbeda.
“Hari ini aku mau minum juga deh.”
“Eh? Itu kejutan. Rei-chan mau minum setelah shift. Ini pertama kalinya kan?” Manajer yang sudah siap-siap ditolak seperti biasa terlihat cukup terkejut.
“Aku penasaran sama dessert barunya juga.”
“Oh Rei-chan juga penasaran? Memang keliatan enak ya? Kopi apa yang kamu mau?”
Manajer dengan ceria mencatat pesanan Nanase.
“Secangkir Kapal Api”
“Siap. Sebentar ya.”
Sepertinya senang bisa ngobrol dengan Nanase yang biasanya pendiam, manajer pergi membuat kopi dengan semangat.
Aku memperhatikan mereka sebentar, lalu mulai memainkan ponsel ketika merasakan seseorang berdiri di depanku.
“Boleh duduk di sini?”
Pertanyaan itu datang dalam suara merdu seperti gerincing lonceng.
“Iya, silakan.”
Begitu aku mengizinkan, Nanase duduk di seberangku.
Ada firasat buruk… Setiap kali dia mendekat begini, pasti ada sesuatu.
Aku masukkan ponsel ke saku dan menghadapinya.
“Ada apa hari ini?”
“Hari ini aku datang karena ada urusan lagi.”
Wajahnya terlihat seperti hampir tidak sabar ingin menceritakan sesuatu.
“Urusan apa?”
“…Kamu ingat yang kita bicarakan kemarin?”
“Hm? Oh, iya… soal tunangan, kan?”
Karena keluarga kami sama-sama terkemuka dengan sejarah panjang, tunangan kami ditentukan oleh keluarga.
Pasangannya sudah pasti putra atau putri keluarga terkemuka lainnya. Tidak ada cinta di sana — ini pernikahan demi kepentingan keluarga. Itulah nasib yang sudah diberikan kepada kami.
“Iya, soal itu… sepertinya punyaku mau segera ditentukan.”
“…Begitu.”
Aku nggak tahu harus bilang apa, jadi aku cuma merespons seadanya. Dalam situasi seperti ini, harusnya aku ucapkan selamat? Atau justru bersimpati? Yang bisa aku lakukan hanya mencoba memahami perasaannya dan mendengarkan.
Saat aku sedang memikirkan cara memulai, manajer Watanabe-san meletakkan kopi dan dessert baru di meja kami dengan senyum lebar. Mungkin karena sedang senang, cangkir kopinya lebih besar dari biasanya.
“Ini kopinya dan donat krim baru, isi krimnya banyak ya.”
“Terima kasih, Manajer.”
“Terima kasih.”
Aku dan Nanase berterima kasih ke manajer.
“Ngomong-ngomong, jarang banget lihat kalian ngobrol. Kayaknya belum pernah deh sebelumnya.” Manajer menyelidik dengan senyum seolah sudah menangkap sesuatu.
“Ichijo-kun lagi kasih aku saran hidup hari ini.”
Yah, bukan bohong sih.
“Oh, benarkah! Bagus dong, memikirkan masa depan. Yah, kayaknya aku ganggu nih, aku pergi dulu ya.”
Dengan itu, Watanabe-san memberiku acungan jempol seolah berkata “semangat ya,” lalu kembali ke ruang staf.
“Orangnya seperti apa?”
“Belum tahu, tapi kemungkinan dari keluarga terkemuka.”
Begitu rupanya… Untuk keluarga Nanase mau menikahkan putrinya, dia pasti dari keluarga dengan status yang cukup tinggi. Mungkin setara dengan keluargaku.
“Begitu… Yah, mungkin bakal berat, tapi semangat. Aku dukung kamu.”
“Iya, pasti aku lakukan yang terbaik,” gumamnya dengan senyum yang terasa agak penuh makna.
 
◇ ◇ ◇
 
Malam Jumat, aku berada di sebuah restoran di hotel mewah.
Ada firasat buruk… Makan di tempat seperti ini biasanya berarti ada masalah.
Setelah diantar ke tempat duduk oleh pelayan, aku melihat seorang pria berjas hitam. Itu ayahku, Ichijo Shinya, yang sudah lebih dulu menikmati segelas wine sambil memandang pemandangan malam.
“Senang kamu bisa datang.”
“Sudah lama, Ayah.”
“Iya. Sini, duduk.”
Atas ajakan ayah, aku duduk, dan segelas jus apel dituangkan untukku.
“Aku lebih suka non- alkohol.”
“Sudahlah. Bersulang dulu yuk.”
Waktu kami mengetukkan gelas pelan, terdengar suara nyaring yang jernih.
Mmm, enak! Pasti pakai apel yang bagus.
Aku mencoba melarikan diri dari kenyataan dengan pikiran itu, tapi kata-kata ayah menarikku kembali.
“Baiklah.”
Satu kalimat itu mengubah suasana ruangan seketika.
Ah, aku sudah tahu… Harapanku bahwa ini hanya makan malam biasa antara ayah dan anak hancur sudah.
“Langsung ke intinya saja. Kamu sudah punya tunangan. Selamat.”
“…Serius?”
“Iya. Status keluarganya sempurna, jadi aku sudah menyetujuinya. Ini kabar baik untukmu.” Ayah bertepuk tangan sambil tertawa riang.
Dari sudut pandangku, ini sama sekali tidak menyenangkan.
“Selain itu, dia sangat cantik.”
“Dari mana Ayah tahu…”
“Aku pikir itu yang paling ingin kamu tahu.”
Tepat sekali. Jujur, itu memang sesuatu yang cukup aku penasarkan.
Nggak nyangka cerita yang aku dengar kemarin sekarang terjadi padaku sendiri… Kata-kata “bisa saja kamu besok” memang benar adanya.
“Pertemuannya dijadwalkan besok, jadi jangan lupa hadir.”
“Apa?! Besok?!”
“Iya. Aku andalkan kamu.”
Dengan ayah — kepala keluarga saat ini — bicara begitu, aku tidak punya cara untuk menolak.
“…Baik.”
Aku menyetujuinya dengan terpaksa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top